Minggu, 15 Maret 2015

Kondisi pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan tiang pancang kebudayaan dan pondasi utama untuk membangun peradaban bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Oleh karena itu substansi pendidikan, materi pengajaran dan metodologi pembelajaran, serta manajemen pendidikan yang akuntabel susah seharusnya menjadi perhatian bagi para penyelenggara Negara. Terbukti bahwa seluruh bangsa yang berhasil mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi mesti disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh.

Namun eksistensi pendidikan yang ada di Indonesia pada saat ini masih menjadi permasalahan karena masih banyak anak bangsa yang belum mendapatkan pendidikan yang sebagaimana mestinya dan ada juga yang sama sekalipun belum pernah mencicipi bangku sekolah sama sekali contoh kecilnya saja anak yang terlantar hal ini sangat memperihatinkan. Sebenarnya mereka juga mempunyai hak yang sama seperti anak-anak yang sudah mendapat pendidikan yang layak seperti contoh anak orang kaya. Arah bangsa nantinya ada pada tangan mereka karena merekalah nantinya yang akan menjadi penerus perjuangan bangsa. Dan di beberapa daerah juga masih banyak gedung sekolah yang tidak layak untuk digunakan. Selain gedung sekolah, ada juga beberapa daerah yang kekurangan tenaga untuk mengajar.


Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana dan prasarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentunya mempunyai harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten dan kurang profesional. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman. Yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.

Sarana dan prasarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai  untuk hidup dan kerja mereka. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya disebabkan kurang adanya guru dan sekolah.


          Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:
v  Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.
v  Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.
v  Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
v  Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.
v  Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
v  Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan.
v  Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.
v  Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.
          Dalam kenyataannya, langkah-langkah yang dipaparkan oleh presiden masih belum terealisasikan dengan seutuhnya dalam pendidikan di Indonesia.
          Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:
1. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia
          Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
          Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
          Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya ingin dianggap hebat oleh orang lain.
          Dalam pendidikan di sekolah menengah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.
2. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia
          Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.
          Beberapa masalah efisiensi pengajaran di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pengajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
          Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sistem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidikan.
          Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tentang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri kita, memang sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran seeperti DANA BOS, namun yang diperlukan peserta didik bukan hanya itu saja, melainkan kebutuhan lainnya seperti buku teks pengajaran atau buku paduan, alat tulis, seragam dan lain sebagainya. Dan hal itu diwajibkan oleh pendidik yang bersangkutan. Yang mengherankan lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut. Itu juga merupakan masalah bagi peserta didik.
          Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena memerlukan banyak waktu untuk peserta didik mengikuti proses pendidikan formal. Selain itu, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, ekstrakuriler, dan lain-lain. Jelas terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.
          Masalah lain dari efisiensi pengajaran adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar juga yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan biaya lebih. Kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya atau tidak pada keahliannya. Misalnya saja, seorang pengajar yang mempunyai dasar pendidikan di bidang matematika, namun dia mengajarkan kesenian yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebenarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga tidak mudah dimengerti dan tidak membuat tertarik peserta didik.
          Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.
          Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang mengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah biaya pendidikan. Sehingga sangat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kurang efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.
          Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran atau output yang diinginkan dapat dihasilkan secara maksimal dengan hanya menggunakan masukan yang relative tetap, atau jika dengan masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran atau output yang maksimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran.
          Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.
3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia
          Jika kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
          Dunia pendidikan terus berubah seiring dengan perubahan zaman. Kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat terus-menertus berubah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam era globalisasi saat ini. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki atau dipenuhi oleh seseorang dalam suatu lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar. Dan Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
          Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkepung oleh standar kompetensi saja sehingga kehilangan makna dan tujuan dari pendidikan tersebut.
          Peserta didik di Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaimana agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpenting adalah memenuhi nilai di atas standar yang telah ditentukan saja.
          Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
          Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai ataukah belum. Misalnya dalam kasus UAN atau Ujian Akhir Nasional yang hampir selalu menjadi kontroversi. Penilaian sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang disayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus atau tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan yang hanya dilaksanakan satu kali saja tanpa melihat proses yang telah dilalui oleh peserta didik yang telah menempuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlangsung satu kali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi beberapa bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.
          UAN dinilai merupakan sistem yang kurang tepat. Tak bisa dipungkiri, sistem pendidikan di negara ini terbilang masih kacau. Hal ini bisa dilihat dari hasil dari sistem tersebut, dimana masih belum bisa memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap siswa. Siswa yang pintar hanya dalam semua mata pelajaranlah dan sering mendapatkan nilai tertinggilah yang menjadi patokan apakah siswa tersebut memenuhi keriteria dari sistem tersebut. Tentunya hal ini tidaklah adil bagi seluruh siswa. Siswa dengan berbagai karakter dipaksa mengikuti sistem dan cara belajar yang sama. Padahal tidak semua siswa memiliki satu jenis cara mereka dalam menyerap ilmu. Yang selama ini kita lihat di sekolah-sekolah, guru menerangkan, murid mendengar lalu latihan. Metode ini dianggap sudah ketinggalan zaman dan terlalu kaku. Dan yang paling fatal mudah sekali menghilangkan minat belajar pada siswa. Memang ada beberapa karakter siswa yang bisa atau malah mudah dengan metode belajar seperti itu, namun sekali lagi tidak sedikit pula siswa yang tidak bisa menyerap materi pelajaran dengan metode seperti itu karena itu tadi perbedaan karakter dan ditambah pola pendidikan berbeda yang diterapkan oleh orang tua masing-masing siswa. Perlu diketahui bahwa metode belajar setiap manusia berbeda-beda sesuai dengan karakter mereka, ada tipe belajar secara visual, lingual, pendengaran, analisis, debat, individu, kelompok dan lain-lain.  Untuk itu ada baiknya sistem pendidikan yang seperti itu diubah yaitu dengan menganalisis kebutuhan belajar serta metode belajar yang tepat bagi siswa sebelum siswa tersebut masuk ke jenjang sekolah, lalu mengelompokan siswa ke beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan dan metode belajar yang dapat diterima siswa. Dengan begitu potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap siswa dapat tergali lagi dengan maksimal.
          Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Tentunya hal tersebut dapat kita ketahui jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia sehingga menjadi lebih baik lagi.
          Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
          Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
          Menurut detik news (2009), Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.
2. Rendahnya Kualitas Guru
          Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
          Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sebagai berikut : untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
          Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).
          Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
          Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).
          Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.
          Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).
4. Rendahnya Prestasi Siswa
          Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
          Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.
          Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).
          Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
          Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
          Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
6. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
          Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya Biaya Pendidikan
          Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.
          Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
          Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
          Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
          Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.
          Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).
          Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN. Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.
          Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.
          Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
          Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.
          Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

D. Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia
          Menurut Prof. Dr. Made. Pidarta (2004), untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:
          Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
          Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintahlah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
          Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
          Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, meningkatkan keprofesionalan guru, meningkatkan kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Misalnya rendahnya prestasi siswa diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga,  sarana dan prasarana pendidikan, dan sebagainya.
          Pendidikan merupakan hak setiap warga negara, namun masih ada beberapa  dari mereka yang belum mendapatkan hak tersebut. Hingga saat ini, peluang terbesar untuk memperoleh akses pendidikan yang baik hanya anak orang kaya dan pintar. Dengan bermodalkan kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup, didukung dengan kemampuan berpikir tinggi, menjadi faktor pendukung untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik. Mereka berpeluang besar memasuki sekolah-sekolah elit, berkualitas, berstandar nasional, bahkan internasional. Hal ini menciptakan lingkungan belajar-mengajar yang kondusif, karena ditunjang dengan kualitas anak didik yang punya daya pikir tinggi.  Selain itu, tersedianya sarana prasarana yang lengkap membantu untuk mewujudkan pendidikan yang mapan. Pada saat sekarang pendidikan yang ada di Indonesia berbentuk sistem pasar yaitu bagi mereka yang memiliki uang banyak maka mereka akan mendapatkan pendidikan yang layak.sebenarnya hal tersebut tidak boleh terjadi.
Berbicara tentang pendidikan ini Dalam UUD pasal 31 ayat 1 dan 2 sudah jelas yaitu bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, negara juga mempriorotaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD. Pertanyaanya, sudahkah semua anak bangsa mendapatkan haknya? Melihat fakta saat ini, di Indonesia setiap tahunnya lebih dari 1,5 juta anak sekolah tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Daftar Pustaka :


Rabu, 11 Maret 2015

Pentingnya dan manfaatnya bakat untuk hidup kita

Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih untuk mencapai keterampilan khusus. Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir.

Pentingnya mengetahui bakat yang kita miliki adalah supaya dikemudian hari kita bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan kemampuan serta bakat yang kita miliki sehingga kita bisa belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias. Dan apabila kita terus berlatih untuk memaksimalkan bakat yang kita punya maka bakat yang kita miliki akan menjadi keberhasilan untuk diri kita sendiri.

Selain itu bakat yang kita miliki juga ada manfaatnya. Diantaranya adalah :
  • Kita jadi tahu potensi kita dan bisa untuk dikembangkan.
  • Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita juga bisa merencanakan dan mengembangkannya. Dengan demikian bakat juga turut merencanakan masa depan.
  • Kita bisa memilih kegiatan apa yang akan kita ikuti sesuai dengan bakat yang kita miliki.

Sabtu, 03 Januari 2015

Analisis Novel Angkatan 66 "Jangan Ucapkan Cinta"
Sinopsis

JANGAN UCAPKAN CINTA
Karya : Mira W
Novel ini menceritakan tentang percintaan dan kebencian, seseorang yang begitu mencintai hingga berubah menjadi dendam / sebuah kebencian.

Niken Ardini adalah perempuan yang berasal dari keluarga biasa saja, ayahnya hanya seorang pedagang kecil di pinggiran kota tegal, Niken anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakak laki-lakinya meninggal ketika berumur tujuh tahun karena sakit dan adiknya meninggal juga ketika berumur tiga minggu, sedangkan ibunya harus kehilanggan rahimnya akibat pendarahan setelah melahirkan karena tidak di tangani dengan baik oleh tenaga medis. Semenjak kejadian semua itu Niken bertekat untuk menjadi seorang dokter, tetapi kesulitan ekonomi telah menghambat cita-citanya. Dia hanya bias menjadi seorang perawat di sebuah klinik dokter Eko Prasetio.
Dokter Eko mempunyai kakak yang bernama Aldi, dia berbeda sekali dengan adiknya, Aldi berbadan tinggi, tegap dan gagah sedangkan Dokter Eko badanya kurus dan berkacamata tebal. Niken bertemu dengan Aldi di tempat kerjanya, semenjak ketemu pada pandangan pertama Niken langsung jatuh cinta pada Aldi. Akan tetapi Niken sadar bahwa dia sudah mempunyai tunangan yang bernama Bambang. 

Hari demi hari Aldi selalu bertemu dengan Niken dan menggodanya, akhirnya Niken memutuskan petunangannya dengan Bambang dan memilih menikah bersama dengan Aldi. Walau pun sudah menikah Aldi masih sangat mencintai pacarnya semenjak SMA yang bernama Indah Juwita Purnama yang sangat cantik. Sedangkan Indah sudah memilih menikah bersama dengan Roni seorang Sutradara yang membuatnya menjadi artis dan namanya terkenal dimana-mana. Pertemuan Aldi dan Indah membuat perasaan mereka kembali lagi, Aldi sangat mencintai Indah dan mengajak Indah untuk bersamanya tetapi Indah tidak mau, Indah lebih memilih Roni dan kariernya sebagai seorang artis. Aldi sangat terobsesi sekali dengan Indah sampai merubah bentuk tubuh istrinya yang kurus menjadi berisi dan bagus, tatanan rambut dan segi berpakaian juga, tetapi Niken tidak mengeluh dan menurut saja karena sangat mencintai suaminya sehingga rela diapapun juga. Setelah hampir setahun menikah, Aldi bertemu lagi dengan Indah, akhirnya Aldi meninggalkan Niken yang sedang mengandung anaknya dan lebih memilih pergi jauh bersama dengan Indah. Bertahun-tahun sudah Aldi meninggalkan Niken, dan sejak itu kesengsaraan selalu datang di kehidupannya. Niken hidup seorang diri untuk menghidupi anaknya yang sedang sakit, karena sangat miskin dan menderita sampai akhirnya anaknya meninggal karena sakit keras yang tidak bisa diobati.

Semenjak anaknya meninggal kehidupan Niken semakin hancur dan sengsara hingga menjadi depresi, dan akhirnya masuk rumah sakit jiwa yang secara tidak sengaja ditangani oleh Dokter Eko adik iparnya sendiri. Eko yang dari dulu sangat mencintai Niken tetapi tidak menyatakannya dia selalu menemani Niken dan akhirnya merubah karakter kepribadian Niken yang dulu lugu dan memelas menjadi wanita yang tegar dan sadis hamper tidak memiliki lagi hati. Demi merubah setatus sosialnya akhirnya Niken memilih menikah dengan Dokter Eko adik iparnya sendiri dan membuka lembaran barunya menjadi pengusaha kaya yang terkenal sangat keras dan bengis. Seiring waktu berlalu usaha Niken semakin maju dan menjadi semakin besar, tetapi Niken masih menyimpan dendam pada Aldi dan Indah yang telah membuatnya menderita.

Suatu hari Niken bertemu dengan Aldi dan Indah, semenjak itu Niken mempunyai rencana untuk membalas dendam atas perlakuan mereka dengan membuat Indah menderita dan menjadi gila, begitupun juga kepada Aldi, Niken melakukan hal yang sama dengan membuat bangkrut perusahaannya. Karena Niken masih sangat mencintai Aldi akhirnya mereka bersama lagi dan diketahui oleh Dokter Eko, karena perselingkuhan itu Dokter Eko sangat marah dan akhirnya Dokter Eko berencana untuk membunuh Niken. Rencana pembunuhan itupun terlaksana tapi Dokter Eko salah sasaran sehingga yang terbunuh adalah Indah yang mempunyai kesamaan bentuk tubuh dengan Niken. Dan akhirnya Dokter Eko masuk penjara dan menjadi depresi karena terobsesi untuk membunuh Niken. Aldi dan Niken kembali bersama dan memulai lembaran baru lagi bersama dengan anak Aldi dan Indah yang bernama Bram. Wajahnya sangat mirip dengan anak Niken yang telah meninggal.


B. Unsur Intrinsik

1. Tema : Dalam novel “Jangan Ucapkan Cinta “ ini bertema CINTA DAN DENDAM yang menceritakan tentang percintaan yang isinya seorang wanita yang di kecewakan oleh suami yang menghiyanatinya.

2. Amanat :
• Kesetiaan hasus merupakan suatu pondasi pada setiap hubungan.
• Janganlah membalas dendam karena perbuatan yang sangat tidak baik.

3. Alur : Novel ini menggunakan alur maju dalam ceritanya.

4. Tokoh : 
- Niken Ardini 
Niken mempunyai dua karakter yang pertama dia orangnya baik, lugu, cerdas, gesit dalam bekerja, dan baik hati. Yang kedua setelah kejadian yang menimpanya sifatnya berubah menjadi sadis, kasar, tegas, sombong, dan angkuh.
- Aldi prasetio
Aldi dia orangnya playboy, ganteng, gagah, tinggi, dan suka menggoda wanita.
- Eko prasetio : Eko dia orangnya pendiam, baik, sopan, dan misterius
-  Bambang pranoto
Bambang dia adalah seorang produser sebush film yang sangat ternama sekaligus suami Indah juwita sifatnya keras, sadis, tetapi baik loh.
- Indah juwita purnama 
Indah seorang artis yang sedang naik daun, diasangat canti dan menarik, wanita yang sangat di cintai oleh Aldi tetapi dia isteri dari bambang
- Dimas :Adalah anak Niken dan Aldi semasa hidupnya dia tak pernah melihat wajah ayahnya
- Roni jamal : Adalah seorang produser sekaligus menjadi suami Indah.
- Tuti: bekeja di perusahaan Niken
- Bram : Anak dari Indah dan Aldi

5. Sudut Pandang : 
Novel ini menggunakan nama seseorang sehingga sudut pandangnya menggunakan orang ke 3.

6. Gaya bahasa :
Dalam penulisannya novel ini menggunakan gaya bahasa yang biasa saja dan sederhana.

7. Latar : 
Latar pada novel “ Jangan Ucapkan Cinta “ada pada beberapa tempat yaitu pada rumah, klimik, rumah sakit, kolam renang, hotel, halaman rumah, perusahaan(kantor), dan Country Durham (hutan) Inggris.

C. Kutipan yang menarik

1. “Kata siapa saya tidak bias, mas?”
“Kamu bukan gay, kan?
Eko tertawa pahit.
“Kalo saya bukan playboy seperti mas-Al, tidak berarti saya sakit, kan?” (hal:8)

2. “Pak Aldi memeng punya modal untuk itu.”
Modal untuk jadi playboy maksudmu? Wajah ganteng, tubuh atletis, duit banyak? Kalau saja
kaummu tahu berapa banyak air mata yang harus mereka korbankan untuk menebusnya!”
(hal:11)

3. Niken mempunyai cita-cita menjadi dokter, kedua saudaranya meninggal karena penyakit infeksi. Ibunya harus kehilangan rahimnya akibat pendarahan setelah melahirkan karena tidak
ditangani dengan baik oleh tenaga medis.
(hal:13)

4. Tapi kesulitan ekonomi yang menghambat cita-citanya. Lulus SMA dia tidak mampu melanjutkan studi kefakultas kedokteran, walaupun IQ-nya 142 dan dia di terima difakultas kedokteran negeri.
(hal:13)

5. Niken sangat menyukaipekerjaanya. Dedikasinya tinggi pengabdian total, sifatnya yang lugu dikombinasikan dengan otak yang encer dan sikap yang gesit, amat mendukung profesinya. (hal:14)

6. Jika cinta berarti kebodohan, saya tetap akan memilikinya, Dok. Daripada hidup dalam kegersangan tanpa cinta.
 (hal:49)

7. Eko mengawasi perawatnya dengan mata terbelalak gusar, urat-urat wajahnya menyumbul meredam ledakan kemarahan di dadanya.
 (hal:49)

8. “Kamu akan menyesal!” Desisnya seorang diri ketika Niken telah meninggalkan kamar prakteknya. “Air matamu akan runtuh sebanyak tetes-tetes cintamu! Suatu hari, akan kamu kutuki pertemuanmu dengan dia!”
 (hal:49)

9. Bukan hanya marah, dia sakit hati, sekaligus dendam, labih-lebih saat suaminya meninggalkan dia sedang hamil.
 (hal:60)

10. Aku juga ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri, piker Niken dengan mulut terkunci. Dia bukan hanya merusak hidupku , dia menghancurkan masa depanku!
 (hal:61)

11. Sebagai seoran perawat Niken tahu sekali pentingnya giji yang baik untuk janin dalam kandungan, dia juga memerlukan vitamin, memeriksakan kandungan, membeli berbagai keperluan untuk bayinya. Dan semua itu harus di lakukannya seorang diri karena dia tidak punya suami!
 (hal:63)

12. Sementara itu kandungan semakin membesar tenaganya tidak sekuat biasa lagi, lebih cepat lelah, kegesitanya jauh berkurang karena harus membawa-bawa beban berat di perutnya dan suatu hari jatuh pingsan.
(hal:64)

13. Niken tidak sanggup merawat anaknya di ICU karena itu Dimas hanya di taruh pada ruang isolasi. Duapuluhempat jam Niken menjaga anaknya terus-menerus, dia tidak tidur sekejap pun bahkan tidak makan sama sekali.
(hal:73)

14. “Tidak mungkin….! Dimas di sini..!Kemana lagi dia pergi kalau saya masih di sini? Sejak lahir dia tidak pernah pergi tanpa saya! Kmi tidak pernah berpisah.
 (hal:74)

15. Jika dulu Niken masih memiliki Dimas laksana sebuah oase di padang gurunderita hidipnya, kini yang tersisa hanyalah panasnya dendam dan keringnya cinta di tengah-tengah kegersangan hidupnya……
(hal:75)

16. Aku tidak boleh mati, Desis Niken tiap malam sebelum tidur, sambil mengawasi foto anak dan suaminya, aku masih punya hutang pada kalian…….!
(hal:78)





17. “Anaknya sakit?” Nada suara Niken melunak.
“Dapat telepon mendadak dari suaminya,bu.
Anaknya mendadak kejang-kejang, sudah dua hari anak mbak Tuti darawat di rumah sakit bu…..”
 (hal:85)

18. EMPAT PULUH RIBU?” Niken terbelalak kaget. “Mengapa begitu mahal? Resepnya untuk obat generic kan?”
 (hal:68)

19. “Pusing ya, saying?” Bisik Niken sambil meraba dahi anaknya.
“Ah, masih panas. Dia harus memperoleh anti biotik itu secepatnya. Kalau tidak, panasnya tidak mau turun, atau turun sedikit, lalu naik lagi.
 (hal:71)




20. Bab VII (Hal. 68-78)


Jangan Ucapkan Cinta

“EMPAT PULUH RIBU?”Niken terbelalak kaget. “Mengapa begitu mahal? Resepnya untuk obat generic kan?”
“Kebetulan amoksilin generic-nya lagi kosong.” Sahut petugas di apotik itu acu taka cu. “Kalau tidak mau di ganti yang sejenis, cari saja di apotek lain.” Dengan jengkel niken merenggut kembali resepnya. Digendongnya anaknya yang baru berumur dua tahun, yang sedang menangis lemah sambil merintih. Ketika dia hampir melewati pintu apotik seorang pria berdasi memanggilnya dengan ragu-ragu.Niken menoleh kaget. Dan matanya melebar ketika meliha t Bambang tegak di hadapanya. Rapi, keren, bergaya eksekutif, lengkap dengan kemeja tangan panjang, dasi, berkaca mata berbingkai emas dari merek terkenal, dan tentu saja tas bantu dari kulit asli, yang harganya lima bulan gaji niken sebagai perawat.
“Kamu niken, kan?” tegur bambang seperti tidak percaya dengan matanya sendiri. “Astaga, Nik! Kamu berubah sekali!” Nada suara Bambang memang tidak melecehkan. Tidak. Sama sekali tidak. Tapi bagaimanapun, Niken tak dapat mengusir perasaan rendah diri dari sudut hatinya.
Pasti tambah tua dan kurus, keluh Niken dalam hati. Hampir tiga tahun aku di jerat penderitaan…….

Dan ketika melihat wanita muda yang keren dan cantik itu, tiba-tiba saja Niken merasa minder. Dan tiba-tiba saja dia menyesal tidak memoles wajahnya dengan make up sebelum berangkat tadi…….

Ah, siapa yang ingat dengan segala macam make up? Dimas tiba-tiba kejang. Sudah tiga hari memang dia demam.Dan Niken belum sempat membawanya ke dokter. Dikiranya Cuma demam biasa, pusing, muntah, tidak mau makan, siapa sangka hari ini dia kejang-kejang. Dan kejangnya lebih lama dari kejang demam biasa. Niken membawa Dimas secepatnya ke rumah dokter Eko. Dan di sinilah mereka sekarang…..ah, mengapa dia harus memilih apotek ini?Mengapa dia harus bertemu dengan bambang……? 
“Obatnya sudah selesai, mas,” kata wanita muda yang dandanannya amat modis itu. Perhiasan gemerlapan menyemarakkan penampilannya. “Yuk, pulang!”
“Kenalkan dulu, Da, ini Niken, temanku,” Bambang menoleh kembali pada niken sambil tersenyum bangga. “Ini istriku, Nanda.”

Nanda menoleh sekilas pada Niken. Tanpa memandang sebelah mata dia mengulurkan tangannya, sekedar membalas jabatan tangan Niken.
“Saya ke mobil dulu, mas,” kata Nanda sambil melemparkan sepotong senyum basa-basi pada Niken. Lalu tanpa menoleh lagi dia melangkah anggun ke mobilnya.
Tidak sengaja Niken menoleh keluar. Sebuah mobil merek terkenal. Seorang sopir berdiri di samping mobil, membukakan pintu untuknya.
“Bagaimana keadaanmu, Nik?” tanyanya pura-pura iba. “Ini anakmu? ”Ya,” Niken menghembuskan jawaban itu bersama hembusan napasnya. Anak siapa lagi Ditimang-timangnya Dimas yang masih merintih lemah. Ditepuk-tepuknya pantatnya dengan lembut. “Dia lagi sakit. Aku mesti buru-buru puang.”
“Boleh ku antarkan? Kamu nggak bawa mobil, kan? Tunggu, aku Tanya Nanda dulu ya.”
“Terima kasih. Tidak usah repot-repot. Sampe jumpa.”
Bergegas niken menggendong anaknya keluar Bambang masih memegangi pintu sambil mengawasinya.
“Bekas sahabatmu?”Tanya Nanda begitu Bambang masuk ke mobil
. “Teman lama,”sahut Bambang sambil menarik napas panjang. “Baru tiga tahun berpisah. Tapi rasanya dia sudah bertambah tua tiga belas tahun!”
“Seharusnya kamulah yang naik mobil itu, saying,” bisik Niken sambil mengecup pipi anaknya. Dia menggendong Dimas ke dalam bajae di depan apotik. “Tapi mama tidak menyesal memilih ayahmu. Suatu hari, kalau kamu sudah melihat papa, kamu pasti mengerti mengapa mama memilihnya.” Seperti mengerti kata-kata ibunya, Dimas mengeluh panjang. Dia memejamkan matanya dengan lesu, dan merintih sedikit.
“Pusing ya, saying?” Bisik Niken sambil meraba dahi anaknya.
“Ah, masih panas. Dia harus memperoleh anti biotic itu secepatnya. Kalau tidak, panasnya tidak mau turun, atau turun sedikit, lalu naik lagi.
Diam-diam Niken menyesali dirinya, tidak membawa Dimas ke dokter lebih cepat. Di kiranya Dimas hanya flu biasa, panas sedikit dan sakit leher rewel, tidak mau makan, lagi pula dia sibuk mengurus laporan kepada yang berwajib. Sudah tiga tahun suaminya menghilang tanpa kabar berita. Seharusnya dia sudah berhak mewarisi hartanya. Kalau dia dapat menjual rumah Aldi…barang kali dia dapat lepas dari kesulitan ekonomi yang telah menjeratnya selama ini! Niken sudah pengap sekali. Ingin buru-buru lepas dari beban berat yang menindih hidupnya.
Niken sudah berniat menjual rumahnya dan membawa anaknya pulang ke tegal. Dia akan mencoba mencari penghidupan berdua saja dengan Dimas di sana.
“Dan mama dapat memberimu kehidupan yang lebih baik, “Bisik Niken kepada anaknya dengan perasaan bersala. “Kamu berhak menikmati uang ayah mu, Dimas sayang. Hanya itu yang dapat di berikannya kepada mu.“
“ Tolong, Dok!” Tangis Niken di telepon. “ panasnya tidak mau turun, dan dia kejang lagi!. “Sebentar saya ke sana, “Sahut Eko datar.“ Saya sedang ada pasien “Apa tidak sebaiknya saya bawa ke rumah sakit saja, Dok? “Desah Niken cemas. “Saya takut Dimas kena meningitis!”
“Tunggu saya, “Perintah Eko tegas. “Kompres saja dulu, masukkan antikonvulsan melalui anusnya.
Tetapi ketika Eko muncul di rumah Niken sejam kemudian, kesadaran Dimas sudah mulai menurun. Petekia di kulitnya bertambah banyak. Bergegas mereka membawanya ke rumah sakit.
Dokter anak yang memeriksa Dimas di ruang gawat darurat menyetujui pendapat Niken, bahkan sebelum di lakukan punksi lumbal.
“Kemungkinan meningitis purulenta.”kata dokter itu dengan dahi berkerut. “Sebaiknya diinfus dulu sambil menunggu hasil lab.”
“Masi di rawat, Dok?” gumam Niken antara sedih dan bingung.
“Kalau sudah koma, bukan hanya di rawat dia harus masuk ICU!”
Tapi dari mana aku memperoleh biaya perawatannya? Piker Niken resah. Dia menoleh kearah Eko. Tepat pada saat dokter itu berpaling ke padanya. Tetapi Eko tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengawasi Niken. Dan tidak seorang pun mengerti arti tatapanya.
Niken tidak sanggup merawat anaknya di ICU. Karna itu Dimas ditaru di ruang isolasi. Uluh empat jam Niken menjaga anaknya terus menerus. Dia tidak tidur sekejap pun. Bahkan tidak makan sama sekali. Niken membantu merawat, mengganti infuse, mengawasi mereka, memasukan obat ke dalam cairan itu. Memantau demamnya yang tidak kunjung turun. Mengganti kompres.
Niken bahkan tidak henti-hentinya berdoa dan mengajak Dimas berbicara. Meskipun Dimas tidak bereaksi sama sekali. Dia masi tetap dalam keadaan koma, dan tidak seorang pun sanggup membangunkanya. Tidak juga orang yang paling di sayanginya satu-satunya orang yang paling dekat dengannya sejak lahir.
“Bangun dong, sayang.” Bisikannya lirih. “Mama kesepian sekali. Sama siapa mama harus ngomong kalau bukan sama Dimas? Bangun, ya? Nanti mama dongengin si kancil lagi, baru Dimas boleh tidur lagi….”
Tetapi yang maha kuasa berkehendak lain. Demam Dimas tidak kunjung turun. Dan kesadaranya pun tak kunjung puih. Dimas meninggal tanpa memperoleh kesadaranya kembali.
Niken seorang perawat senior dia sudah sering melihat kematian. Sudah sering mendampingi pasien yang hamper meninggal. Dia selalu tau dengan persis kapan waktu kematian pasien itu.
Tetapi ketika anaknya sendiri meninggal, Niken hamper tidak menyadarinya. Dia tidak percaya Dimas telah meninggal kannya.
“Tidak mungkin !” Bantahnya ketika dokter memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya dengan murung. “Tidak mungkin!Dimas masi di sini! Ke mana lagi dia pergi kalau saya masih di sini? Sejak lahir, dia tidak perna pergi tanpa saya! Kami tidak pernah berpisah!”
Ketika dokter itu diam termangu, ketika Niken melihat Dimas-nya diam saja walaupun Niken mengguncang-guncang tubuhnya, dai menubruk kaki dokter Eko, meratap sambil memohon pilu.
“Tolong saya Dok! Tolong! Bangunkan Dimas! Jangan biarkan dia pergi! Kami tidak pernah berpisah!”
Tapi sekarang mereka harus berpisah. Niken harus meninggalkan anaknya seorang diri dalam liang lahatnya yang gelap dan sempit. Orang tua nya memaksa membawanya pulang. Walau pun Niken ingin terus mendampingi buah hatinya sementara Eko tak mampu menolongnya. Dia hanya tegak mematung di tepi liang lahat, mengawasi Niken yang sedang menangis dalam rangkulan ibunya.
“Saya ingin tetap di sini!” Tangis Niken getir.“ Saya tidak boleh meninggalkan Dimas! Tidak mau! Tidak mau!”
Sambil meraung Niken merontah ingin menyeburkan dirinya ke dalam lubang kubur. Untung ayahnya masih cukup sigap mendekapnya.
“Mari kita pulang, Nik.” Humam ayahnya dengan air mata berlinang. “Tak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk Dimas…. Kita harus meninggalkanya beristirahat dalam damai di sini….”
Dengan siapa Dimas di sana? Kemana dia harus mencari ibunya kalau lapar? Kalau kedinginan! Kalau ketakutan!

“Dimas tidak akan pernah merasakan semua itu lagi, Nik.” Hibur ibunya dengan suara tersendat” Sekarang tak ada lagi penderitaan, rasa sakit, ketakutan….”
Mungkin benar Dimasnya tak akan pernah merasakan penderitaan lagi… Karena semua penderitaan itu kini telah menjadi milik Niken!
Jika dulu Niken memiliki Dimas laksana sebuah oase di padang gurun derita hidupnya, kini yang tersisa hanyalah panasnya dendam dan keringnya cinta di tengah-tengah kegersangan hidupnya…. “Niken tidak gila,” kata Eko mantap di depan orang tua perawatnya. “Dia hanya mengalami depresiberat akibat kehilangan anaknya. Tetapi untuk mencegah kelainan jiwa yang lebih berat, sebaiknya Niken dirawat.”
“Dirawat?” desis ibunya separo panik. “Di rumah sakit… jiwa ?”
“Jika depresinya tidak semakin berat, Niken dapat berobat jalan ke klinik saya. Kebetulan saya sedang mengambi spesialisasi ilmu jiwa. Percayalah, Bu. Karena itu dia harus segera di beri obat-obat anti depresi, sekaligus spikoterapi.”
“Apakah tidak sebaiknya kami bawa dia pulang, Dok?” Selah ayah Niken murung. “Di rumah, ada istri saya yang bias selalu mengawasimya.”
“Tapi di sini ada saya yang dapat mengobatinya engan lebih baik,” Sahut Eko tegas.
Sesaat ayah dan ibu Niken mengawasi dokter itu dengan bimbang. Terus terang, mereka khawatir meninggalkan anaknya seorang diri di Jakarta. Tetapi ada sesuatu di mata dokter itu yang membuat perintahnya sukar di tolak.
“Kalau begitu biar istri saya tinggal di sini untuk sementara waktu, Dok gumam ayah Niken berat. “Biar dia menemani Niken selama berobat.”
“Ok.” Eko mengangkat bahu. “Ini resep obat yang harus di beli . Selamat siang,”
Eko mendengarkan dengan penuh gairah seluruh kisah masalalu Niken. Dia sedang melakukan spikoanalisa. Niken berbaring santai di sofa. Sementara Eko duduk di kursi, Di dekat kepala Niken.
Sudah beberapa kali mereka melakukan spikuanalisa seperti ini. Dan semakin lama, bukan hanya Niken yang merasa semakin lega. Eko pun merasa semakin terlibat.
Niken merasa lebih baik karena dapat menumpahkan semua problem yang terpendam di alam bawa sadarnya. Sementara Eko merasa semakin semangat untuk menggali lebih dalam lagi.
Penderitaan pasiennya saperti bumbu penyedap dalam sebuah buku cerita. Eko sangat menikmatinya. Makin berat penderitaan yang di paparkan Niken,makin bergairah pula Eko mendengarkan kisahnya.
Beberapa kali dia menghipnotis pasiennya. Menggali kejadian-kejadian yang dalam keadaan sadar tak dapat di ungkapkan Niken. Dan sebagian besar kejadian itu, menyangkut hubungan Niken dengan Aldi.
“Kamu masih mencintainya?”
“Saya tidak dapat melupakanya.”
“Kamu tidak boleh melupakannya. Tapi kamu harus berhenti mencintainya. Dia telah menghianati mu. Selama kamu masih mencintainya, kamu akan tetap menderita.”
“Rasanya saya ingin mati saja. Saya ingin menyusul Dimas. Ingin menemaninya….”
“Kamu tidak boleh mati, Niken,.. berulang-ulang Eko menekankan kalimat itu setiap kali dia mengakhiri terapinya. “Kamu masih punya utang yang belum terbayar lunas!”
Sesudah menjalani spikoterapi selama hamper dua tahun, Niken berubah total. Tak ada lagi perawat lugu yang memelas merudung penderitaan. Yang tampil kini adalah seorang wanita yang tegar. Yang hamper tidak memiliki lagi hati dan emosi.
Aku tidak akan mati, desis Niken setiap malam sebelum tidur, sambil mengawasi foto anak dan suaminya. Aku masih punya utang dapa kalian!

Kutipan ini menceritakan tentang :
• perjuangan seorang ibu yang mempertahankan anaknya supaya sembuh dari sakitnya.
• Perjuangan seorang isteri dan anak yang di tinggalkan oleh suaminya begitu saja.
• Kesedihan seorang ibu yang ditinggal mati anak satu-satunya sehingga menjadi gila.
• Menurut saya pada bab ini sangat menarik sekali, ketika saya membacanya sampe menangis karena sangat terharu.